Sabtu, 12 Mei 2012

Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

Laju Endap Darah (LED) merupakan pemeriksaan yang mengukur kecepatan pengendapan sel darah merah dalam waktu tertentu yang dinyatakan dalam mm/jam. LED menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara sel darah merah dengan plasma. Pemeriksaan LED merupakan pemeriksaan atas indikasi yang penting untuk uji saring terhadap penyakit infeksi. Salah satu yang dapat mempengaruhi hasil Laju Endap Darah (LED) adalah suhu ruangan, apabila suhu tinggi maka nilai LED meningkat, karena eritrosit mudah mengendap.
Penelitian ini penulis lakukan untuk mengetahui kesesuaian hasil pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) metode westergreen modikasi (sediplas) yang dilakukan pada suhu ruangan diantaranya suhu pada kamar dan pada ruang ber-AC
Penelitian dilakukan terhadap 50 sampel darah untuk pemeriksaan LED metode westergreen sediplas pada suhu ruangan 280C ( suhu kamar ) dan suhu ruangan 180C ( ruang ber- AC ).
Setelah dilakukan perhitungan secara statistic dengan uji “t”, didapatkan nilai rata-rata untuk LED metode westergreen sediplas pada suhu ruangan 280C yaitu 17,08 sedangkan pada suhu ruangan 180C ( ruang ber- AC ) didapat nilai rata-rata yaitu 15,22 dan didapat rata-rata selisih -1,86 dengan standar deviasi 8,023 dan nilai “t” statistik -1,639 berdasarkan table paired T-tes diketahui bahwa nilai p-value 0,10 lebih besar dari 0,05 maka terima hipotesis nol, artinya tidak dapat perbedaan rata-rata LED metode westergreen sediplas pada suhu ruangan 280C ( suhu kamar ) dan LED metode westergreen sadiplas pada suhu ruangan 180C ( ruang ber- AC ).

Metode
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.
LED berlangsung 3 tahap, tahap ke-1 penyusunan letak eritrosit (rouleaux formation) dimana kecepatan sedimentasi sangat sedikit, tahap ke-2 kecepatan sedimentasi agak cepat, dan tahap ke-3 kecepatan sedimentasi sangat rendah.

prosedur:
Metode Westergreen
  • Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.
  • Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0.
  • Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung.
  • Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit

Selasa, 08 Mei 2012

Reproduksi Bakteri Transformasi Transduksi Konjugasi

 Bakteri dapat melakukan reproduksi dengan dua cara yakni reproduksi secara aseksual dan reproduksi secara seksual. Reproduksi bakteri secara seksual dibagi menjadi tiga jenis yaitu, reproduksi dengan transformasi, reproduksi dengan transduksi, dan reproduksi dengan konjugasi. Berikut uraian lengkap mengenai macam-macam reproduksi bakteri.
A.  Reproduksi aseksual
Pada umumnya bakteri berkembang biak dengan pembelahan biner, artinya pembelahan terjadi secara langsung, dari satu sel membelah menjadi dua sel anakan. Masing-masing sel anakan akan membentuk dua sel anakan lagi, demikian seterusnya. Proses pembelahan biner diawali dengan proses replikasi DNA menjadi dua kopi DNA identik, diikuti pembelahan sitoplasma dan akhirnya terbentuk dinding pemisah di antara kedua sel anak bakteri. Perhatikan gambar skematik pembelahan biner sel bakteri dibawah!
 B. Reproduksi seksual
Bakteri berbeda dengan eukariota dalam hal cara penggabungan DNA yang datang dari dua individu ke dalam satu sel. Pada eukariota, proses seksual secara meiosis dan fertilisasi mengkombinasi DNA dari dua individu ke dalam satu zigot. Akan tetapi, jenis kelamin yang ada pada ekuariota tidak terdapat pada prokariota. Meiosis dan fertilisasi tidak terjadi, sebaliknya ada proses lain yang akan mengumpulkan DNA bakteri yang datang dari individu-individu yang berbeda. Proses-proses ini adalah pembelahan transformasi, transduksi dan konjugasi
.Transformasi
Dalam konteks genetika bakteri, transformasi merupakan perubahan suatu genotipe sel bakteri dengan cara mengambil DNA asing dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, pada bakteriStreptococcus pneumoniae yang tidak berbahaya dapat ditransformasi menjadi sel-sel penyebab pneumonia dengan cara mengambil DNA dari medium yang mengandung sel-sel strain patogenik yang mati. Transformasi ini terjadi ketika sel nonpatogenik hidup mengambil potongan DNA yang kebetulan mengandung alel untuk patogenisitas (gen untuk suatu lapisan sel yang melindungi bakteri dari sistem imun inang) alel asing tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kromosom bakteri menggantikan alel aslinya untuk kondisi tanpa pelapis. Proses ini merupakan rekombinasi genetik – perputaran segmen DNA dengan cara pindah silang (crossing over). Sel yang ditransformasi ini sekarang memiliki satu kromosom yang mengandung DNA, yang berasal dari dua sel yang berbeda.
Transduksi
Pada proses transfer DNA yang disebut transduksi, faga membawa gen bakteri dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Ada dua bentuk transduksi yaitu transduksi umum dan transduksi khusus. Keduanya dihasilkan dari penyimpangan pada siklus reproduktif faga. Diakhir siklus litik faga, molekul asam nukleat virus dibungkus di dalam kapsid, dan faga lengkapnya dilepaskan ketika sel inang lisis. Kadangkala sebagian kecil dari DNA sel inang yang terdegradasi menggantikan genom faga. Virus seperti ini cacat karena tidak memiliki materi genetik sendiri. Walaupun demikian, setelah pelepasannya dari inang yang lisis, faga dapat menempel pada bakteri lain dan menginjeksikan bagian DNA bakteri yang didapatkan dari sel pertama. Beberapa DNA ini kemudian dapat menggantikan daerah homolog dari kromosom sel kedua. Kromosom sel ini sekarang memiliki kombinasi DNA yang berasal dari dua sel sehingga rekombinasi genetik telah terjadi. Jenis transduksi ini disebut dengan transduksi umum karena gen-gen bakteri ditransfer secara acak. untuk menempel pada resipien (penerima) DNA dan disebut sebagai “betina”. Kemudian sebuah jembatan sitoplasmik sementara akan terbentuk diantara kedua sel tersebut, menyediakan jalan untuk transfer
Konjugasi dan Plasmid
Konjugasi merupakan transfer langsung materi genetik antara dua sel bakteri yang berhubungan sementara. Proses ini, telah diteliti secara tuntas pada E. Coli. Transfer DNA adalah transfer satu arah, yaitu satu sel mendonasi (menyumbang) DNA, dan “pasangannya” menerima gen. Donor DNA, disebut sebagai “jantan”, menggunakan alat yang disebutpiliseks untuk menempel pada resipien (penerima) DNA dan disebut sebagai “betina”. Kemudian sebuah jembatan sitoplasmik sementara akan terbentuk diantara kedua sel tersebut,

Senin, 07 Mei 2012

PEMERIKSAAN TRANSUDAT DAN EKSUDAT


PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
1.      Jumlah
Ukurlah dan catatlah volume yang didapat dengan pungsi. jika semua cairan dikeluarkan jumlah itu memberi petunjuk tentang luasnya kelainan.
2.      Warna
Mungkin sangat berbeda-beda. Agak kuning, kuning bercampur hijau, merah jambu, merah, putih serupa susu, dll. Bilirubin memberi warna kuning kepada transudat. darah menjadikannya merah atau coklat, pus memberi warna putih-kuning, chylus putih serupa susu, B.pyocyaneus biru-hijau. Warna transudat biasanya kekuning-kuningan, sedangkan eksudat dapat berbeda-beda warnanya dari putih melalui kuning sampai merah darah sesuai dengan causa peradangan dan beratnya radang. Warna eksudat oleh proses radang ringan tidak banyak berbeda dari warna transudat.  
3.      Kejernihan
Inipun mungkin sangat berbeda-beda dari jernih, agak keruh sampai sangat keruh. Transudat murni kelihatan jernih, sedangkan eksudat biasanya ada kekeruhan. Jika mungkin, kekeruhan yang menunjuk kepada sifat eksudat itu dijelaskan lebih lanjut sebagai umpamanya serofibrineus, seropurulent, serosanguineus, hemoragik, fibrineus, dll.


Kekeruhan pada transudat eksudat terutama disebabkan oleh
·         Leukosit : Kekeruhan yang sangat ringan sampai dengan seperti bubur.
·         Erytrocyt : Kekeruhan berwarna kemerah-merahan
Adanya kekeruhan pada transudat eksudat dinyatakan dengan:
·         Serous                                    
·         Seropurulent
·         Serosanguinis
·         Putrid
·         Purulent
·         Serofibrinous
4.      Bau
Biasanya baik transudat maupun eksudat tidak mempunyai bau bermakna, kecuali kalau terjadi pembusukan protein. Infeksi dengan kuman anaerob dan oleh E.coli mungkin menimbulkan bau busuk, demikian adanya bau mengarah ke eksudat.
5.      Berat Jenis
Harus segera ditentukan sebelum kemungkinan terjadinya bekuuan. Penetapan ini penting untuk menentukan jenis cairan. Kalau jumlah cairan yang tersedia cukup, penetapan dapat dilakukan dengan urinometer, kalau hanya sedikt sebaiknay memakai refraktometer. Seperti sudah diterangkan, nilai berat jenis dapat ikut memberi petunjuk apakah cairan mempunyai ciri-ciri transudat atau eksudat.
6.      Bekuan
Perhatikan terjadinya bekuan, dan terangkan sifatnya (renggang, berkeping, berbutir,  sangat halus, dll). Bekuan itu tersusun dari fibrin dan hanya didapat pada eksudat. Kalau dikira cairan yang dipungsi barsifat eksudat, campurlah sebagian dari cairan itu dengan anticoagulant supaya tetap cair dan dapat dipakai untuk pemeriksaan lain-lain.
Bekuan yang terjadi sangat lambat pada transudat karena kadar fibrinogen yang rendah disebut FIBRINOUS SWAB / PELICLE.

Minggu, 29 April 2012

Cara Uji Kualitas Reagen


Uji kualitas media merupakan satu-satunya upaya dalam penjaminan mutu media atau hasil (output). Jaminan mutu atau kualitas adalah seluruh rangkaian kegiatan laboratorium untuk meyakinkan hasil-hasil yang dikeluarkan dengan mempertimbangkan segi-segi reabilitas, kecepatan, biaya dan relevansinya terhadap klinis serta lingkungan. Sebagai komponen penting dalam pelayanan kesehatan, hasil laboratorium digunakan untuk penetapan diagnosis, pemberian pengobatan, serta penentuan prognosis. Oleh karena itu hasil pemeriksaan laboratorium harus selalu terjamin mutunya.
Masalah kualitas pada bidang kimia klinik agak lebih sederhana dibanding bidang mikrobiologi. Karena kualitas hasil akhir dapat diukur dengan parameter secara obyektif terutama akurasi dan presisi, dimana kedua-duanya dapat dipertanggung jawabkan, serta penilaian berupa angka atau statistik.
Mikrobiologi merupakan suatu cabang ilmu yang kurang kuantitatif sehingga pengertian kualitas hasil akhir lebih ditekankan kepada kesempurnaan teknis. Untuk mencapai, menjaga, melakukan perbaikan berkesinambungan dan meningkatkan kualitas hasil akhir, mutlak perlu dilaksanakan pemantapan mutu (Quality Assurance) yang mencakup komponen: Pemantapan Mutu Internal, Pemantapan Mutu Eksternal, Akreditasi, Audit, Validasi Hasil, Diklat Berkelanjutan.
Pelaksanaan pemantapan mutu bidang mikrobiologi merupakan manajemen pengendalian mutu laboratorium mikrobiologi mencakup: Pengendalian mutu tahap pra analitik, Pengendalian mutu tahap analitik dan Pengendalian mutu tahap pasca analitik. Kualitas pemeriksaan bidang mikrobiologi sangat bergantung kepada kualitas media yang dipakai.
Media kultur dapat disediakan baik dalam bentuk base (dasar) kering secara komersial, dari racikan bahan-bahan baku yang berbeda atau dari media yang siap pakai yang dikemas dalam tabung dan cawan plastik. Walaupun media siap pakai ini masih diperdebatkan penggunaannya, kebanyakan ahli sangat setuju terutama dalam bentuk cairan karena lebih efisien dan ekonomis.
Perusahaan-perusahaan komersial yang ternama itu juga mempunyai program quality control sendiri dan dapat membuat media dengan hasil jauh lebih baik, serta kepekaan yang lebih tinggi dibanding yang dibuat sendiri oleh laboratorium pemakai. Jika biaya tenaga kerja meningkat dan waktu yang dibutuhkan untuk quality control bertambah maka penyediaan media dari ramuan bahan-bahan mentah tidak dianjurkan. Bakteri seperti mahluk hidup lainnya memerlukan nutrisi untuk pertumbuhan. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi (penanaman), mengisolasi dan mengidentifikasi mikroorganisme.
Mikroorganisme memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang berbeda di dalam persyaratan pertumbuhannnya. Ada mikroorganisme yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada pula yang tidak mampu, dan hal lain seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroorganisme. Bakteri atau mikroorganisme lainnya agar dapat dibiakkan didalam laboratorium memerlukan media yang memungkinkan tumbuh dan berkembang secara optimal. Oleh karena itu media pembiakan harus mengandung cukup nutrien untuk pertumbuhan mikroorganisme, selain suhu dan pH. Meskipun persyaratan nutrien bakteri amat beragam, namun sebagai mahluk hidup, mereka mempunyai kebutuhan dasar yang sama, yaitu meliputi air, karbon, energi, mineral. Untuk itu hasil laboratorium mikrobiologi yang berkualitas tinggi dapat diartikan sebagai suatu laporan yang sangat membantu dalam pencegahan atau penanggulangan penyakit. Tes laboratorium yang dikerjakan dengan sempurna diharapkan akan berkualitas tinggi, jika didukung media dan bahan dasar yang baik pula. Oleh karenanya penulisan panduan ini memiliki sasaran yaitu standar yang baik pada media.

Sabtu, 21 April 2012

Uji Motilitas Bakteri

Dasar Teori
 Diantara ciri-ciri utama sel bakteri yang dipelajari adalah ukuran, bentuk, susunan dalam kelompok, struktur sel, dan bagian-bagian lain yang memberi ciri khas bagi pengenalan bakteri tersebut seperti flagel, kapsul, spora dan sebagainya. Motilitas suatu bakteri juga merupakan ciri khas bagi pengenalan bakteri. Yang dimaksud dengan gerak ini adalah sifat atau kemampuan bakteri untuk dapat berpindah tempat dengan menggunakan salah satu bagian tubuhnya. Jadi bukan gerak yang disebabkan oleh pengaruh luar, seperti bergetar atau gerak maju mundur yang disebabkan oleh benda-benda halus yang berada dalam cairan suspensi, sebagai akibat pertumbukan molekul-molekul cairan dengan bakteri tersebut (gerak semacam ini disebut gerak Brown). Salah satu bagian tubuh atau organ yang dimaksud adalah flagel. Bakteri dapat bergerak dengan menggunakan flagel, akan tetapi flagel tidak ditemukan pada semua jenis bakteri. Oleh karena itu dapat atau tidaknya bakteri bergerak merupakan salah satu ciri yang dapat digunakan  dalam identifikasi bakteri.
Diantara banyak anggota Protista sekurang-kurangnya ada empat gerakan berpindah yang dapat dibedakan, yaitu gerak amoeboid, gerak meluncur, gerak yang disebabkan oleh berputarnya sel berbentuk sawa (Spirochaetales), dan gerak yang disebabkan adanya gerak seperti mendayung oleh flagel atau bulu cambuk. 
Flagel sebagai alat gerak bakteri adalah suatu organ berupa benang yang berpangkal dalam sitoplasma (Indrawati, dkk., 2002) atau flagel adalah semacam untai rambut yang menembus keluar dinding sel dan menimbulkan gerak berenang (Usman, 1987). Sedangkan menurut Pelczar (1986) flagelum adalah embel-embel seperti rambut yang teramat tipis mencuat menembus dinding sel dan bermula dari tubuh dasar, suatu struktur granular tepat di bawah membran sel di dalam sitoplasma (jamak, flagela). Flagelum inilah yang menyebabkan motilitas pada sel bakteri.      


Flagel tersusun dari tiga atau lebih serat paralel atau melilit memanjang, terbuat dari protein tipe flagelin yaitu semacam miosin, lebih halus dari flagel ialah bulu getar (silia) eukarion. Tiap serta adalah rantai polipeptida berbentuk sawa. Flagel terdiri dari tiga bagian :
1.      Tubuh dasar
            Bagian dasar flagel berhubungan dengan membran sitoplasma dan dinding sel.
2.      Struktur seperti kait
Struktur ini terdiri dari dua (pada bakteri Gram positif) atai empat (pada bakteri Gram negatif) bagian berupa cincin yang melekatkan flagel itu pada membra sitoplasma dan dinding sel. Tersusun dari subunit protein (monomer) yang diatur dalam pola sawa. Hilangnya dinding sel tidak mengganggu flagel, hanya bila dinding sel tidak ada, gerak bakteri itu berkurang.
3.      Sehelai filamen panjang di luar dinding sel
Bahan filamen berbentuk sawa, biasanya beberapa kali lebih panjang dari selnya sendiri.
Lama benar orang tidak tahu dengan pasti, apakah flagel itu tumbuh pada dinding sel ataukah mempunyai akar di dalam sitoplasma, atau mungkinkah flagel itu hanya merupakan kepanjangan protoplasma melalui celah-celah di dalam dinding sel. Elektron mikroskop menunjukan bahwa flagel itu benang-benang protoplasma yang berpangkal pada titik-titik tepat di bawah membran sel; pangkal itu disebut rizoblast (Dwidjeseputro, 1980). Tetapi menurut  Usman (1987), terdapat flagel yang memiliki flagel ekstern. Tetapi didalam selnya terdapat strukur yang mirip flagel tepat di bawah pembungkus luar sel, dan dinamakan flagel periplasma, pernah disebut fibril taksis atau endoflagel. Inilah yang menyebabkan gerak spirokheta, tetapi bagaimana terlaksananya masih belum jelas diketahui.
Flagel menurut letak dan jumlahnya merupakan salah satu ciri yang dapat digunakan dalam identifikasi bakteri. Macam-macam letak flagel:
-          monotrik; (monotrich; monos, tunggal; thrix, rambut) satu flagel pada salah satu ujung sel bakteri. Contoh bakteri Pseudomonas aeruginosa
-          amphitrik; (amphitrich; amphi, dua-dua) satu flagel pada kedua ujung sel bakteri. Contoh bakteri
Spirillum serpens
-          lofotrik; (lophotrich; lophos, tumbuh berupa segumpal rambut) lebih dari satu flagel pada salah
satu atau kedua ujung sel bakteri. Contoh Pseudomonas flourescens
-          peritrik; (peritrich; peri, sekitar) flagel keluar dari tiap bagian permukaan sel bakteri. Contoh
bakteri Salmonella typhii
-     atrik; tidak ada flagel, umumnya bakteri berbentuk kokus.
Karena ada bukti-bukti bahwa bakteri yang amfitrik itu sebenarnya bakteri yang sedang atau akan membelah diri, maka timbullah pendapat baru untuk mengadakan dua klasifikasi saja mengenai kedudukan flagel, yaitu flagel terminal yang terdapat pada ujung saja seperti Vibrio, Spirillum, dan Pseudomonas, dan flagel lateral seperti halnya Escherichia coli, Proteus vulgaris serta pada beberapa Bacillus dan Clostridium yang dapat bergerak. 

Pengecatan Flagel Metode Gray
Flagel adalah alat gerak berbentuk cambuk pada sejumlah organisme bersel satu.
Flagel tersusun atas 3 bagian,yaitu :


    Pangkal (basal) merupakan bagian yang berhubungan dengan membrane plasma
-        Hook yang pendek
-        Filamen yang menyerupai benang yang panjangnya sampai beberapa kali melebihi panjang tubuhnya.
Lalu bagaimana cara mengetahui adanya flagel pada bakteri?
Yaitu dengan melakukan pengecatan flagel, metode yang digunakan adalah metode gray
1.       Tujuan Pengecatan              : untuk mengetahui adanya flagel pada bakteri
2.      Prinsip                       : flagel mampu mengikat zat warna karena penggunaan mordant dan berwarna merah ungu apabila dilakukan pengecatan metode Gray
3.      Alat dan bahan       :
·       Objek glass
·       Pipet tetes steril
·       Pembakar spirtus
·       Sampel bakteri
·       Incubator
·       Cat mordant dan carbol fuchsin
·       Mikroskop
·       Emersi oil
4.     Cara kerja                 :
A.     Lakukan uji motil lebih dahulu
B.     Pembuatan preparat
·       Siapkan objek glass yang bersih,kering,bebas lemak
·       Teteskan 1 tetes sampel bakteri di tepi objek glass menggunakan pipet tetes steril secara aseptis
·       Objek glass dimiringkan sehingga tetesan mengalir keujung yang lain
·       Keringkan objek glass dalam incubator suhu 56oC selama 10 menit
C.    Pengecatan
·       Genangi preparat dengan larutan mordant selama 10 menit, buang sisa cat cuci dengan air mengalir
·       Genangi dengan carbol fuchsin 5 menit, buang sisa cat cuci dengan air mengalir
·       Kering anginkan
·       Amati di bawah mikroskop dengan lensa objektif 100x + emersi oil (perbesaran 1000x)
5.      Hasil                           :

6.      Kesimpulan                            : dalam sampel ditemukan bakteri batang memiliki organelle flagel                                                       peritrik


7.      Pembahasan            :
Flagel memungkinkan bakteri bergerak menuju kondisi lingkungan yang menguntungkan dan menghindar dari lingkungan yang merugikan bagi kehidupannya.
Pada pengecatan flagel, sebelum ditetesi carbol fuchsin terlebih dahulu ditetesi/digenangi mordant.
Fungsi mordant :
-      Untuk mengintensifkan pengikatan cat
-      Untuk memperjelas diameter flagel
-      Memberi warna yang kontras
Terdiri dari campuran :
5 cc larutan jenuh kalium aluin dalam aquades
2 cc larutan asam tanin 20% dalam aquades
2 cc HgCl 2 jenuh dalam aquades
0,4 cc larutan basic fuchsin jenuh dalam alcohol 96%
Berdasarkan letak dan jumlah flagel bakteri dibedakan :
-      Artik (tidak berflagel)        : bakteri coccus
-      Monotrik (flagel tunggal di ujung ) : Vibrio cholera, E.coli
-      Lofotrik (satu/seberkas flagel di salah 1 ujung) : Pseudomonas aeroginusa , Spirilum volutant
-      Amfitrik (satu/seberkas flagel di ke2 ujung ) : Spirillum seifem
-      Peritrik (flagel di seluruh permukaan tubuh ) : Proteus vulgaris


-